our journey

Daisypath Anniversary tickers

Minggu, 14 Maret 2021

Petak Umpet Next Level

Petak Umpet adalah permainan tradisional yang biasa dimainkan minimal dua orang, caranya adalah satu pemain berada di markas memejamkan mata sambil berhitung, selama berhitung pemain lainnya akan bersembunyi, ketika hitungan selesai, maka pemain penjaga akan mencari pemain yang bersembunyi.

Permainan ini sangat terkenal baik dalam komunitas lokal maupun internasional. Tentu saja kadang terdapat beberapa perbedaan dalam cara bermainnya, namun intinya tetap sama, yaitu bersembunyi dan mencari. Bahkan ada kompetisi internasionalnya lhoo…. Kompetisinya bernama Nascondino World Championship, pertama kali diselenggarakan pada tahun 2010 di Bergami, Italia.

Nah, dua minggu terakhir ini Kyo lagi senang-senangnya main petak umpet, tentu saja karena masih dalam suasana pandemi, mainnya #dirumahaja, bosen dong bunda rumah kecil mainnya disitu-situ juga, akhirnya bunda dan ayah punya inisiatif buat main #petakumpetnextlevel, jadi kita tulis dulu clue tempat kita ngumpet, lalu penjaganya nebak, baru deh penjaga mencari pemain yang bersembunyi.

 

Kyo senang pastinya, ayah dan bundanya ikut senang karena ini bisa melatih Kyo membaca dan mengeluarkan ide dalam bentuk tulisan (menulis), selain tentu saja manfaat-manfaat lain yang terdapat pada petak umpet biasa seperti membuat anak aktif, belajar bersosialisasi, melatih sportivitas, belajar berhitung, dan belajar taat pada peraturan.

Yuk, mari bermain bersama anak-anak #dirumahaja

 

Selasa, 04 Agustus 2020

INDAHNYA IKHLAS

Kyo, saat ini berusia 5 tahun, sudah sangat bosan dan jenuh dengan kegiatan di rumah aja. Ketika tanpa sengaja ia melihat seekor kambing lewat depan rumahnya. “Bunda, kok ada kambing” tanyanya. “Iya nak, sebentar lagi kita akan merayakan Idul Adha” jawab Bunda. Lalu Bunda menjelaskan kepada Kyo bahwa sebagai umat Muslim kita akan merayakan Hari Besar yang kedua yaitu Idul Adha.

Idul Adha kali ini berbeda dari yang sudah lalu, biasanya Kyo bersama Ayah dan Bunda setelah menunaikan sholat sunah Idul Adha di Masjid akan bersama-sama menyaksikan proses pemotongan hewan kurban di dekat rumah. Namun, karena tahun ini Indonesia dan dunia sedang mengalami pandemik, maka kami harus bersabar untuk merayakan Idul Adha dirumah saja seperti ketika Idul Fitri kemarin.

Kami memulai perayaan Idul Adha dengan puasa sunah 2 hari, yang dikatakan Kyo sebagai puasanya baru sebentar tetapi sudah selesai. Mengingat pada bulan Ramadhan dia mengikuti buka puasa sampai 30 hari lamanya. Buka puasanya saja yang 30 hari, sahurnya masih banyak absennya.

Lalu pada hari yang telah ditunggu-tunggupun tiba, kami memutuskan untuk sholat Idul Adha dirumah saja mengingat masih memiliki orangtua dan anak kecil. Ayah bertindak sebagai Imam. Pada shalat Ied kali ini, ayah terlihat lebih santai, tidak terlalu tegang seperti waktu shalat Idul Fitri kemarin. Hal yang sedikit menggelikan terjadi ketika ayah memulai takbir tujuh kali, Kyo menghitungnya keras-keras. Hal ini mungkin terjadi karena pada saat kelas online agama bu guru mengatakan bahwa takbir pada shalat Ied berbeda hitungannya dengan shalat biasa, yaitu tujuh dan lima kali. Sehingga ketika shalat dimulai, dihitung keras-keras oleh Kyo.

Pada saat khutbah, ayah berkata bahwa kita harus dapat meniru keikhlasan nabi Ibrahim dan Ismail dalam menghadapi cobaan, dan percaya sepenuhnya kepada Allah SWT. Pada saat ini bunda berpikir bahwa sungguh Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan hambanya, dan terkadang yang menurut kita cobaan ternyata merupakan anugerah.

Dengan adanya pandemi ini memang kita merasa seperti dikeluarkan dari zona nyaman kita. Seperti halnya bunda yang biasa bekerja di ranah public jadi harus bekerja dari rumah. Bekerja dari rumah sebetulnya tetapi apabila disambi mendampingi anak sekolah dari rumah tentu saja harus pintar-pintar mengatur waktu dan strategi. Pastinya mengatur emosi juga penting. Kyo juga harus bisa menahan diri untuk tidak beraktivitas fisik dengan teman-teman sebayanya, pun tidak bisa bebas keluar rumah.

Namun ada juga hal-hal menyenangkan yang bisa dirasakan oleh kami sekeluarga, bonding diantara kami menjadi lebih erat. Pada tiga bulan pertama pandemi ayah bisa pulang cepat dan kami bisa shalat magrib berjamaah. Sesuatu yang tidak mungkin terjadi jika bukan pandemi. Bunda jadi mengerti bagaimana cara mengajar guru-guru Kyo di sekolah, sehingga lebih mudah bila ingin mengulang pelajaran bersama Kyo. Sementara itu Kyo tentu lebih senang dapat lebih banyak waktu untuk bertemu dengan ayah bundanya setiap hari.

Memang benar bahwa keikhlasan itu membawa pengaruh besar dan membuat hidup kita menjadi lebih mudah.

Senin, 15 Juni 2020

Suamiku Mendapat Koki

Sudah sejak lama kami menjalani hubungan jarak jauh alias LDR. Selama itu pula aku selalu kepikiran, apa yang akan dia makan? apakah makanannya terjamin? apakah makanannya bergizi?. Maklum saja dia ditugaskan di tempat terpencil dengan mayoritas penduduknya tidak mengenal kata halal.
Hingga suatu hari aku mendapat kabar bagus darinya…
“Bunda, hari ini ayah dapat teman sekamar baru… dia mantan chef di kapal pesiar…”
Alhamdulillah, meskipun biasanya tugas memasak dilakukan secara bergantian, tetapi paling tidak sekarang sudah ada teman yang bisa ditanyakan ketika mereka kesulitan memasak sendiri.
Akhirnya suamiku mendapat koki.


Tulisan ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas menulis Rumbel IP Jakarta.
Blog yang Berdebu...

Akhirnya setelah sekian lama... bisa terbuka lagi blog yang selama ini berdebu... lupa password dan lupa cara memakainya... semoga setelah ini bisa lebih konsisten menulis blog ini... Aamiin...

Minggu, 03 Juni 2012

Dua Lima, Empat, Dua Ribu Sepuluh


Kalo pakai foto saya nulisnya jadi lama, makanya akhir-akhir ini bikin tulisan yang nggak usah pake foto aja deh. Kali ini bersamaan dengan peringatan 2 tahun pernikahan saya dengan misua, maka saya akan menceritakan hal-hal yang berkaitan dengan acara pernikahan saya itu. Salah satu hal yang mau saya ceritakan adalah mengenai mas kawin. Mas kawin tidaklah harus yang mahal, tetapi saya berpendapat bahwa mas kawin itu simbol dari suami yang siap menafkahi keluarganya. Makanya saya tidak mau mas kawinnya itu uang kertas yang dibentuk-bentuk lalu dibingkai dan dipajang. Habisnya kalo dipajang, apanya yang menafkahi, orang uangnya sudah rusak diuntel-untel. Sempat juga berpikir kalo mas kawinnya itu seperangkat alat sholat dan Al-Qur’an. Tetapi ternyata “misi”nya berat juga. Lalu berpikir lagi apakah tidak sebaiknya mata uang asing saja?! Alasannya adalah karena unik, dan ada negara-negara tertentu yang saya ingin datangi seperti Italia dan Jepang. Oke deh Jepang masih gampang dicari uangnya, tetapi Itali kan sudah pake Euro sekarang, mau nyari Lira kemana saya. Atau bisa juga sih mas kawinnya perhiasan emas, tetapi saya mah benci pakai perhiasan, kalo logam mulia gak apa-apa deh, tapi bingung juga bagaimana menyatukannya dengan tanggal pernikahan?? Sampai saya akhirnya menemukan sebuah ide bagus.

Pernikahan itu kan bukan hanya hablumminnanas, tetapi juga Hablumminallah. Artinya dengan menikah ada suatu bentuk tanggung jawab lain, bukan hanya bertanggung jawab terhadap istri dan anak-anak, tetapi ada pertanggungjawaban di depan Allah, Tuhan Semesta Alam. Makanya sebagai simbol, mas kawin itu haruslah mewakili unsur tersebut. Lalu, bagaimana caranya? Karena saya menikah pada tanggal 25 di bulan keempat, maka angka-angka inilah yang akan saya terjemahkan ke dalam mas kawin saya.

Untuk angka 25 (tanggal) saya memilih menggunakan Dollar Amerika, alasannya adalah Dollar Amerika ini adalah mata uang yang paling gampang dicari selain Rupiah, selain itu sebagian rakyat Indonesia (garis keras biasanya) menganggap Amerika Serikat adalah simbol nafsu duniawi. Makanya sayapun memilih Dollar Amerika ini sebagai lambang duniawi. Sementara untuk angka 4 (bulan), saya memakai Dinar Emas sebagai lambangnya. Dinar Emas adalah acuan untuk pergi haji dari jaman dahulu. Maka dari itu saya menjadikan Dinar Emas ini sebagai lambang akhirat. Karena dunia dan akhirat harus seimbang bukan?! Nah, jadilah mas kawin saya dulu itu berbunyi 25 Dollar, 4 Dinar Emas, 2010 Rupiah.

Ada pertanyaan lain pasti! Kalo Dollar itu lambang dunia, dan Dinar itu lambang akhirat, kenapa jadi lebih banyak Dollar daripada Dinar? Jawabannya diandaikan seperti ini, jam Sholat sama jam kerja banyakan jam kerja kan? Tetapi jam sholat pasti keutamaannya lebih besar daripada jam kerja. Sama saja dengan ini, kelihatannya memang lebih banyak Dollar dibanding Dinar, tetapi coba dikurskan ke Rupiah, pasti lebih besar jumlahnya untuk yang Dinar. Begitulah...

Lalu apa arti Rupiah?  Nah, sekarang acuannya bukan Hablumminanas dan Hablumminalah lagi, tetapi lebih ke negara asing. Saya, sebagai warga Indonesia, sepingin-pinginnya saya pergi ke Mekkah di Arab Saudi, atau sepingin-pinginnya saya mengunjungi negara-negara maju seperti negara-negara di Eropa Barat atau Jepang atau Amerika Serikat, tetapi saya akan lebih senang tinggal di Indonesia. Sama juga seperti dalam kehidupan sehari-hari, serajin-rajinnya kita ke kantor, sesering-seringnya kita ke Mesjid, tidak ada yang lebih enak dibanding kumpul bersama keluarga di rumah. Itulah arti dari mata uang yang terakhir, Rupiah = Indonesia = Rumah.

Semoga dengan lambang mas kawin saya yang mengisyaratkan banyak hal itu keluarga kami bisa menjadi keluarga yang harmonis, berkah dunia dan berkah juga di akhirat. Amin.

Menghadiri 20 tahun Disneyland Paris


Tampak depan Disneyland Park
20 tahun Disneyland Paris
Sewaktu saya berada di Paris, saya berkesempatan untuk pergi ke Disneyland Paris. Dan bertepatan dengan peringatan 20 tahun Disneyland Paris ini, mereka banyak mengadakan acara-acara khusus, juga memproduksi merchandise-merchandise unik. Berangkat dengan menaiki kereta RER yang bertingkat seharga 14 euro PP, kami pergi ke arah timur kota Paris. Jauh lho jaraknya, keretanya sendiri sih tidak terlalu rapi, banyak coret-coretan juga dan kadang-kadang tercium bau pesing dari beberapa stasiun yang kami lewati. Keretanya juga tidak ada petugasnya, malahan adanya semacam tukang minta-minta yang pakai kertas begitu (ditulis dalam bahasa inggris). Jangan-jangan peminta-minta Indonesia sempat studi banding ke Paris, untuk melihat bagaimana peminta-minta Paris ini beraksi.

 
Toko pernak-pernik Cinderela
Kastil Putri Tidur
Setelah kurang lebih setengah jam perjalanan, sampailah kami di Disneyland Paris (sempet salah naik kereta dulu hehehe). Dingiinnnn disana brrrr, kota Paris aja masih dingin, apalagi ini yang diluar paris. Saya sempet tergoda ingin beli sarung tangan Mickey Mouse yang berukuran besar karena tidak tahan dengan dinginnya. Di Disneyland Paris ada 2 parks yaitu Disneyland Park dan Walt Disney Studio’s Park. Karena keterbatasan waktu, saya hanya bisa mengunjungi Disneyland Park saja. 


ini dari Alice in Wonderland
tuh kan ada kuda-kudaan juga :p
Dengan tiket seharga 61 euro (ngok), sayapun memasuki area Disneyland Park ini. Terbagi dalam 5 area yaitu Adventureland, Frontierland, Main Street USA, Fantasyland dan Discoveryland yang menawarkan wahana-wahana yang berbeda-beda (ya, iyalah). Wahana-wahana yang ada di dalam Disneyland Park ini tentu saja mengambil dari berbagai film dan cerita yang pernah dibuat oleh Walt Disney, walaupun sebetulnya di semua taman bermain itu sama sajalah bentuknya (tinggal kreatifitas rute dan pengisian ornamen). Seperti roller coaster, kalo di Dufan, namanya Halilintar, kalo di Disneyland Paris ini namanya Indiana Jones. Atau istana boneka, kalo di Dufan namanya apa ya lupa, tapi kalo di Trans Studio Bandung namanya Petualangan si Bolang. Isinya sama aja sih, boneka gerak-gerak doang. Tapi rutenya dan isi bonekanya yang beda. 


PeterPan bukan ya?

gak tau ini apaan hehehe
FYI, selama di Disneyland Park ini saya gak naik wahana apa-apa lho (what?!). Iya, soalnya waktunya terbatas, jadi cuma foto-foto dan nungguin emak-emak belanja. Overall sih saya suka pergi ke taman bermain seperti ini. Tapi memang tidak terlalu antusias, mungkin karena saya pribadi tidak terlalu menggilai tokoh-tokoh disney. Lain halnya kalo saya diajak pergi ke Shueisha-Land, Shogakukan-Land, Toei-Land mungkin saya sudah bawa-bawa baskom hasil dari tangis bahagia saya hehehe....

Tapi..meskipun saya gak terlalu tertarik, saya beli Puzzle 1000 Pieces lho, buat kenang-kenangan bahwa saya pernah kesini. Habisnya mau beli baju sayang (di pasar jatinegara juga banyak), mau beli pajangan, sayang juga, gak ada tempat buat majangnya dan takut pecah juga. Akhirnya beli puzzle aja deh supaya sekalian main :D